Renungan Harian – Sesi 2: Belajar Melihat dari Dua Sisi
Jika kamu kebetulan melihat seseorang di seberang jalan yang sedang duduk di dekat warung makan, sesekali melirik ke arah etalase, namun tak berani mendekat karena mungkin hanya memiliki sedikit uang — apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu curiga padanya? Ataukah kamu merasa kasihan karena mungkin orang itu ingin membeli sesuatu, tapi tak memiliki cukup uang?
Pernahkah terlintas keinginan dalam hatimu untuk sekadar memberi uang agar ia bisa membeli makanan atau minuman di warung itu? Dan jika suatu ketika kamu melihat ada pengamen yang lewat di area rumahmu, bagaimana sikapmu? Apakah kamu akan mengusirnya, atau justru mempersilakan ia singgah untuk sekadar meneguk air?
Mungkin sebagian dari kita memilih diam. Mungkin juga ada yang berpikir, “Itu bukan urusanku.” Tapi tahukah kamu, betapa banyak hati yang sebenarnya haus akan perhatian dan kasih, namun tertutup oleh dinding ketidakpedulian yang dibangun oleh dunia yang sibuk dan dingin?
Sekarang bayangkan jika kamu berada di posisi orang itu. Kamu berjalan kaki menempuh jarak berkilo-kilometer di bawah teriknya matahari. Tak ada lagi angkutan kota yang lewat sejak lewat tengah hari. Ongkos ojek terasa terlalu mahal — sedangkan uang di saku hanya cukup untuk memberi makan anak dan istrimu di rumah.
Rumahmu masih jauh, empat jam perjalanan kalau ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi jika dengan kendaraan, hanya setengah jam saja. Sementara itu tubuhmu lelah, perutmu lapar, dan langkahmu mulai goyah. Namun kamu tetap berjalan — sebab tak ada pilihan lain.
Lalu di kejauhan kamu melihat seseorang yang berhenti di pinggir jalan. Ia sedang minum air dari botol yang dingin, duduk nyaman di kursi mobilnya yang teduh. Mungkin kamu hanya menatap sebentar, lalu menunduk kembali dan berjalan lagi. Tapi di dalam hatimu, kamu berbisik lirih: “Andai saja aku bisa seperti dia.”
Di sinilah seharusnya hati kita diuji. Bukan soal siapa yang lebih kaya atau lebih miskin, tapi sejauh mana kita mampu melihat dari dua sisi. Karena kasih sejati bukan diukur dari banyaknya uang yang kita punya, melainkan dari seberapa tulus kita mau peduli kepada sesama.
📖 Baca tema lainnya:
Donasi Pembangunan Pondok Pesantren
No comments:
Post a Comment