Renungan Sesi 13
Kisah pilu yang dialami seorang lansia berusia 82 tahun ini menjadi cermin bagi kita tentang arti perjuangan, keteguhan, dan cinta yang tidak pernah padam. Setiap hari, Abah Edi berjalan menyusuri jalanan sambil memikul sebuah lemari kayu seberat kurang lebih 20 kilogram—berharap ada seorang pembeli yang tergerak hati untuk membeli dagangannya.
“Tiap hari Abah keliling jualan dari pagi sampai sore, kadang juga sampai malam. Ini udah hampir dua minggu keliling, tapi lemarinya belum laku-laku,” tutur Abah dengan suara pelan yang bergetar menahan rasa lelah.
Berdiri di tepi jalan, di luasnya lemari kayu yang ditempeli kertas bertuliskan “Jual Lemari Murah” . Ketika dihampiri, ia masih berusaha tersenyum. "Abah udah gak kuat. Kaki sama pundak sakit. Abah jual modalnya aja, yang penting bisa naik angkot," ucapnya sambil memegang pundaknya yang terlihat sakit.
Meski penglihatan mata kirinya mulai kabur dan tubuhnya semakin renta, Abah tetap berjuang melawan terik matahari, debu jalanan, dan jarak puluhan kilometer yang harus ia tempuh. Semua itu dilakukan demi harapan kecil: semoga hari ini lemarinya laku, agar ia bisa membawa pulang sedikit uang untuk istrinya di rumah.
"Di jalanan, cuma kebayang wajah istri. Kasian udah dua minggu ini Abah belum ada hasil. Walaupun Abah nggak bisa bahagiain istri, yang penting Abah ingin terima kasih harapan kalau dia bisa makan," ungkapnya dengan suara lirih.
Setiap hari Abah berjalan dari gang ke gang, dari perkampungan ke pinggir jalan raya, menawarkan lemari kayu milik orang lain. Ia hanya mengambil keuntungan 100–150 ribu jika ada yang membeli. Namun sering kali, lemarinya tidak laku berhari-hari—bahkan berminggu-minggu.
Yang lebih menyayat hati, Abah sering terjatuh karena kelelahan. Lemarinya ikut terjatuh dan rusak. Pernah pula ia terserempet mobil hingga lemari yang dipikulnya terlempar dan hancur. Mobil itu melarikan diri. Abah hanya bisa pasrah dan menanggung kerugiannya sendiri.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang seorang penjual lemari. Ini adalah kisah tentang keteguhan hati , tentang pengorbanan , dan tentang cinta tanpa syarat dari seorang suami yang ingin memberikan kebahagiaan secuil kepada istrinya.
Terkadang kita lupa betapa besarnya kenikmatan istirahat yang kita miliki. Betapa berharganya tubuh yang masih kuat. Betapa mudahnya kita mengeluh—sementara ada seorang Abah berusia 82 tahun yang masih mengangkat beban berat demi bertahan hidup.
Renungan ini mengajarkan kita untuk lebih bersyukur, lebih peka terhadap sekitar, dan lebih ringan tangan membantu mereka yang sedang berjuang sendirian.
Semoga kisah Abah Edi menjadi pengingat bagi kita: bahwa keteguhan hati adalah kekuatan terbesar yang dimiliki manusia.
No comments:
Post a Comment